Sempat diragukan untuk dapat lagi memperkuat persipura setelah menjuarai Liga Indonesia 2005 (akibat faktor usia dan berat badan), Edward Ivakdalam membuktikan kepada Publik Sepakbola Papua dan Tanah Air ba
hwa kecintaannya akan persipura dan Papua telah menutupi semua gunjingan orang terhadap dirinya. Bahkan, saat ini, Tim yang telah dikapteninya sejak tahun 1998 tersebut telah dibawanya menjadi Tim Terbaik di kancah persepakbolaan nasional dengan torehan 3 piala dalam semusim (2008-2009); Piala Liga Super Indonesia, Piala Keraton dan yang paling fenomenal Piala super atau Community Shield.
Lebih hebat lagi, torehan sebagai Tim Terbaik di Tanah Air ini diraihnya bersama persipura di saat memasuki usia yang ke 35 tahun, yang dalam dunia persepakbolaan sudah dapat dikatakan ‘uzur’.
Saya masih ingat kaka Edu pernah berkata: ‘saya tidak akan meninggalkan Persipura sebelum membawa Persipura menjuarai Liga Indonesia’. Suatu janji yang disertai pengorbanan akan kecintaannya yang besar terhadap Persipura dan Papua. Dan ternyata kesetiaan dan pengorbanan itu terbayar mahal. Memasuki masa-masa akhir karirnya, kaka Edu tidak hanya sekali membawa persipur
a juara, tetapi bahkan melebihi apa yang pernah di janjikannya; 2 kali juara liga Indonesia (bahkan mengukirkan sejarah sebagai Tim pertama yang menjuarai Liga dalam format liga yang baru, Indonesian Super League 2008-2009), 4 kali runner up Copa Indonesia secara beruntun, dan Piala super (community shield). Belum lagi ditambah prestasi secara individu seperti Gelandang terbaik Copa 2008, dll.
Suatu pencapaian yang luar biasa, pengorbanan yang terbayarkan lunas dengan sederetan prestasi yang membanggakan secara pribadi maupun tim dan terutama mengharumkan nama Papua di kancah persepakbolaan Nasional.
Kaka Edu belum habis. Faktor usia bukanlah masalah, karena jiwa pengorbanan dan kesetiaan yang ada di dalam diri seorang Edward Ivakdalam 10 tahun lebih muda dari usianya sekarang.
Kepemimpinan dan keteladanan yang ditanamkan telah menjadi kekuatan dan panutan serta perekat kebersamaan tim yang sangat kuat (terutama buat para pemain muda Persipura).
Saya salut!
Saya akan sangat menyesal jika seandainya saya tidak dapat menghadiri pertandingan perpisahan Kaka Edu (jika saatnya Edward Ivakdalam Gantung Sepatu).
Kaka Edu menjadi contoh pengabdi yang pantas diteladani (khususnya bagi orang Papua). Memberikan segenap waktu, pikiran, tenaga, dan jiwa demi memperoleh sesuatu yang bukan bertujuan untuk mengharumkan namanya sendiri, melainkan tanah tercinta Papua. Usia tidak menjadi penghalang baginya, karena jiwanya selalu akan Muda.
Jadi, bagi siapa saja kita yang terpanggil untuk mengabdi (dimana saja kita bekerja dan mengabdi), kita bisa setidaknya juga belajar dari teladan yang telah diberikan oleh seorang Edward Ivakdalam; Setia, Setia dan Setia dalam mengabdi!!
Pada akhirnya, kita juga pasti dapat mempersembahkan suatu ‘piala’ bagi tempat dimana kita mengabdi.
Terima kasih kaka Edu!
I love You and I Love Papua!
Mantap Bro,sukses selalu.Gbu